Begitu sulitnya manusia melepaskan si aku dari raga mereka.
Melepaskan semua EGO yang terus berkembang biak didalam DIRI atas harta, tahta , dan wanita. Kuasa atas ilmu yang dimiliki , kuasa atas jabatan yang ditempati , kuasa atas segala yang dia punya, dan kemudian mengakui dihadapan Tuhannya. Dan saatnya dirinya, memasuki relung hatinya yang terdalam, bersama dengan ‘Sang DIRIJATI’. Diam disana, dalam pengakuan,. YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK, (maha membolak-balikkan hati) hati yang mengakui, menyadari, menerima, dalam totalitas penuh , sesungguhnya dirinya adalah orang yang berserah. Sesungguhnya keadaannya, akan sukarela atau terpaksa dirinya memang harus berserah. Semua terjadi atas skenario dan kehendak Tuhan Semesta ALAM.Betapa sulitnya Memaknai kata ‘berserah diri’. Terserah bagaimana atas kehendak-Nya dalam mengajari kita. Sebab pengajaran bisa melalui apa saja dan dimana saja. Namun sungguhkah kita bisa mencerna semua pelajaran itu?? Tidak..!, sulit sekali kita memiliki sikap yang begitu. Kita tidak memiliki etika sebagai ‘murid’. Kita selalu ingin mengajari Maha Guru kita, yaitu bagaimana seharusnya Maha Guru mengajari DIRI kita. EGO akal kita akan selalu begitu. Kita maunya sang gurulah yang mengikuti kemauan kita. merasa diajari benar akan tidak enak, bagi orang yang tidak tahu manfaat pengajaran itu. Maka perlu sekali sikap ‘penerimaan’.
![]() |
kunci-Nya ada didalam dirimu Dimensi Ruang |
Kebanyakan orang berfikir bahwa dirinya akan menikmati hidup jika berada di tempat lain dengan kondisi yang diinginkan. Sahabat yang di desa misalnya ingin bergabung dengan gemerlapnya kota, sementara yang di kota ingin hidup berdampingan dengan alam. Namun, banyaknya ketakutan dalam DIRI yang menumpuk sering kali dijadikan penghalang dalam mewujudkan keinginan tersebut. Selain ketakutan lainnya, ketakutan akan tidak mendapat penghasilan bisa jadi adalah ketakutan terbesar.
Harus diakui, pada zaman ini uang menjadi peònghipnotis ulung yang membuat semua manusia mengejarnya. Tanpa bermaksud untuk menilai bahwa uang itu penting atau tidak penting, mari kita renungkan tentang nilai akhir yang kita kejar. Uang atau materi adalah suatu sarana yang kita harap akan mengantarkan kita pada suatu nilai akhir yang kita inginkan. Ketenangan atau rasa nyaman adalah end value atau nilai akhirnya, sedangkan sarana atau mean value-nya adalah materi yang dianggap dapat mengantarkan kita ke rasa aman tersebut. Semua orang ingin mencapai end value namun, banyak yang terjebak pada sarana dan materinya saja yang membuat manusia menjadi seperti robot, berusaha mencari sarana (uang) sebanyak-banyaknya hingga melupakan tujuan akhirnya.
Seorang pujangga besar India pernah berkata "pergi dan carilah hidup di tempat hidup itu terasa indah". Saya memaknainya sebagai suatu lokasi di luar, tempat yang kita ingin tempati. Namun, ternyata pemahaman ini sangat dangkal, sekarang saya memahami bahwa Pencipta sangatlah adil, Dia menyediakan ruang terindah itu ada di dalam DIRI kita, di dalam hati kita. Perjalanan naik turun gunung kehidupan, saya menyadari bahwa perkataan pujangga itu untuk mengikuti kata hati bukanlah hal yang mudah. Itu bukanlah jalan tol yang bebas hambatan, melainkan sebuah jalan setapak terjal, yang berujung pada fase yang tak pernah kering.
Dimensi Waktu
Seringkali ku dengar kalimat "live in present moment" atau hiduplah pada saat ini. Ya, mungkin ada yang bertanya, "memangnya kita tidak hidup pada masa kini?" Tidak. Sebagian besar dari kita tidak hidup pada masa kini, pikiran kita masih disibukkan dengan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Jangankan ketakutan masa depan, kesenangan yang akan kita nikmati di beberapa jam ke depan pun dapat menghambarkan kenikmatan hidup saat ini. Jika kita benar-benar memperhatikan apa yang kita kerjakan pada saat ini, pasti akan muncul rasa-rasa baru yang belum pernah kita rasakan dan akan memperkaya jiwa dan tubuh kita. Di akhir tulisan ini saya ingin berbagi sebuah cerita singkat dari saya
"Suatu hari saya bertanya kepada sesama pejalan "apa yang paling membuat-mu heran tentang manusia ,mengapa begitu membutuhkan uang ? Pejalan menjawab, "mereka kehilangan kesehatannya demi mendapatkan uang, dan kemudian kehilangan uangnya untuk memulihkan kesehatannya ,dengan mencemaskan masa depannya, mereka melupakan saat ini. Karenanya, mereka tidak hidup di masa sekarang, dan juga tidak di masa yang akan datang"
"Mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan mereka mati seolah-olah tidak pernah hidup"
didalam Ungkapan bahasa Jawa, “Mati sajroning urip, urip sajroning pati” artinya mati dalam hidup, hidup dalam mati.
#semogasemuamakhlukberbahagia
#semogasemuamakhlukberbahagia

Komentar